Wanita dan Tenun Sasak

Posted on October 9, 2020 by Azhari Setiawan
Human Beli Kreatif Lokal Desa Sade Ekonomi Kreatif Indonesia Kreatif Lombok Sasak Tenun Kain
Share this article

Tenun merupakan tradisi yang terus dijaga oleh Suku Sasak secara turun temurun. Wanita Sasak wajib memiliki keahlian menenun. Selain memiliki nilai ekonomis yang tinggi, kain ini pun mereka kenakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. 

Ada berbagai macam pola kain tenun Suku Sasak, antara lain usu bangkat atau pola pematang sawah dan kain tapuk kemalu. Ada pula motif semanggi, layang, keker dan sabuk antang yang biasa dijadikan selendang atau sabuk.

Motif yang paling rumit adalah kain subhanale. Kain dengan motif yang sangat elegan dan terdapat berbagai macam paduan warna serta tingkat kesulitan pembuatan yang cukup tinggi, membuat kain ini menjadi primadona. Bukan hanya untuk pembeli atau pelancong, kain ini juga menjadi kain yang digunakan untuk acara-acara perayaan di Suku Sasak, antara lain pernikahan dan hari raya yang biasanya disandingkan dengan baju lambung.

Untuk menyelesaikan kain subhanale ini membutuhkan waktu sekitar 4-6 bulan pengerjaan, membuat kain ini memiliki harga yang cukup tinggi, 1-1,5 juta Rupiah. Adapun nama subhanale adalah dari ucapan rasa syukur wanita Sasak setelah menyelesaikan kain ini yaitu "Subhanallah", oleh karena itu kain ini dinamakan kain subhanale.